
AsikinAja.id – Kalau biasanya tren skincare dimulai dari serum baru, sunscreen viral, atau rutinitas sepuluh langkah, internet kali ini punya ide yang jauh lebih sederhana: buka kaleng sarden lalu makan. Di TikTok, ikan kecil yang selama ini lebih identik dengan isi dapur mulai mendapat julukan seperti “skincare in a can” karena dianggap bisa membantu membuat kulit terlihat lebih sehat dan glowing.
Tren tersebut belakangan ikut ramai dibicarakan di Indonesia. DetikFood pada 5 September 2026 menyoroti fenomena makan sarden demi kulit mulus yang sedang viral di TikTok, dengan klaim warganet mulai dari kulit lebih glowing sampai membantu mengurangi jerawat.
Di balik tampilannya yang mungkin nggak se-estetik smoothie bowl, sarden memang punya profil nutrisi yang menarik. Namun seperti kebanyakan tren wellness di internet, jarak antara “punya manfaat” dan “jadi solusi ajaib” sering kali jauh lebih besar daripada yang terlihat di FYP.
Dari Lauk Sederhana Jadi Beauty Food
Sarden sebenarnya bukan makanan baru, apalagi sesuatu yang baru ditemukan karena TikTok. Ikan ini sudah lama dikonsumsi sebagai sumber protein dan lemak sehat, tetapi media sosial berhasil mengemasnya ulang menjadi bagian dari lifestyle modern.
Konten yang beredar menunjukkan berbagai cara menikmatinya, mulai dari dimakan langsung dari kaleng, diletakkan di atas crackers, dibuat salad, sampai dipadukan dengan avocado dan sayuran. Ketika penyajiannya dibuat lebih visual dan diberi narasi “glow from within”, makanan sederhana tersebut tiba-tiba punya identitas baru sebagai beauty food.
ELLE melaporkan bahwa tren sarden berkembang cukup besar sepanjang 2026, dengan banyak pengguna TikTok menghubungkannya dengan kulit dan rambut yang terlihat lebih sehat. Popularitasnya bahkan sempat dikaitkan dengan tingginya permintaan sarden di beberapa toko di Amerika Serikat.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya kemampuan media sosial mengubah persepsi terhadap makanan. Sesuatu yang dulunya dianggap biasa bisa terlihat sangat berbeda ketika masuk ke dunia wellness dan diberi cerita baru.
Kenapa Sarden Dikaitkan dengan Kulit?
Bagian yang membuat tren ini nggak sepenuhnya random adalah kandungan nutrisinya. Sarden merupakan ikan berlemak yang mengandung omega-3, protein, vitamin B12, vitamin D, selenium, dan dalam beberapa jenis juga menyediakan kalsium ketika tulangnya ikut dimakan.
Omega-3 menjadi salah satu alasan utama kenapa sarden sering dikaitkan dengan kesehatan kulit. Nutrisi ini terlibat dalam berbagai proses tubuh dan dapat mendukung fungsi skin barrier serta respons inflamasi, sementara protein menyediakan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan.
Jadi, gagasan bahwa pola makan dapat memengaruhi kondisi kulit memang punya dasar. Kulit bukan bagian tubuh yang berdiri sendiri; apa yang kita makan, kualitas tidur, hidrasi, stres, aktivitas fisik, sampai paparan matahari semuanya ikut memainkan peran.
Masalah muncul ketika sebuah manfaat nutrisi kemudian dipadatkan menjadi klaim seperti “makan ini dan jerawat langsung hilang”. Tubuh manusia jelas tidak bekerja sesederhana algoritma sebelum-dan-sesudah.
TikTok Suka Mengubah Nutrisi Jadi Life Hack
Salah satu ciri wellness culture di media sosial adalah kecenderungan mengubah sesuatu yang kompleks menjadi satu kebiasaan yang gampang ditiru. Dulu ada berbagai minuman detox, kemudian muncul chlorophyll water, protein everything, fiber-maxxing, dan sekarang makanan seperti sarden ikut mendapat spotlight.
Format seperti ini bekerja karena mudah dipahami. Dibanding menjelaskan pola makan seimbang secara panjang lebar, kalimat “makan sarden buat glowing” jauh lebih gampang menjadi hook video lima belas detik.
Namun justru di sinilah pembaca perlu sedikit lebih kritis. Sebuah makanan bisa sangat bergizi tanpa harus menjadi obat untuk segala masalah. Hal yang membantu satu orang juga belum tentu memberikan hasil visual yang sama pada orang lain.
Healthline yang mencoba tren makan sarden untuk kulit juga menekankan bahwa kandungan nutrisi ikan tersebut memang bermanfaat, tetapi hasil terhadap tampilan kulit tidak otomatis dramatis hanya karena mengonsumsinya selama beberapa hari.
“Eat Your Skincare” Jadi Tren yang Lebih Besar
Popularitas sarden sebenarnya bagian dari perubahan lebih luas dalam industri beauty. Perawatan kulit sekarang nggak cuma dibicarakan lewat produk yang dipakai di wajah, tetapi juga dikaitkan dengan nutrisi, tidur, olahraga, kesehatan mental, dan gaya hidup secara keseluruhan.
Konsep ini sering muncul dengan istilah “eat your skincare” atau beauty from within. Alih-alih hanya mengandalkan produk luar, orang mulai lebih memperhatikan bagaimana makanan dan kebiasaan harian berhubungan dengan kesehatan kulit.
Personal Care Insights pada Agustus 2026 mencatat bahwa tren sarden menunjukkan semakin kaburnya batas antara industri beauty, nutrition, dan wellness. Mereka juga menekankan bahwa potensi manfaat sarden paling masuk akal jika menjadi bagian dari pola makan yang seimbang, bukan digunakan sebagai quick fix.
Pendekatan seperti ini sebenarnya lebih menarik daripada sekadar mengikuti hype. Kalau tren membuat seseorang mulai memperhatikan kualitas makan secara keseluruhan, ada kebiasaan positif yang mungkin bertahan lebih lama daripada umur sebuah hashtag.
Tapi Jangan Sampai Semua Makanan Diubah Jadi Skincare
Ada sisi agak lucu dari beauty culture modern: hampir semua hal sekarang bisa diberi label skincare. Tidur disebut skincare, minum air skincare, olahraga skincare, bahkan satu kaleng ikan pun akhirnya masuk ke kategori yang sama.
Padahal makanan nggak harus punya manfaat kosmetik supaya layak dimakan. Kita boleh makan sarden karena suka rasanya, mudah dibuat, harganya masuk akal, atau karena ingin menambah variasi sumber protein.
Ketika semua pilihan makanan dinilai berdasarkan seberapa cepat bisa membuat seseorang terlihat glowing, hubungan dengan makanan justru bisa terasa terlalu transaksional. Wellness yang sehat seharusnya membuat kehidupan lebih nyaman, bukan menambah daftar aturan baru yang harus dipatuhi hanya karena sedang viral.
Jangan Terjebak Tren Ekstrem
Seperti biasa, begitu sesuatu viral, internet sering mendorongnya ke arah yang lebih ekstrem. Ada kreator yang mendokumentasikan konsumsi sarden dalam jumlah besar atau menjadikannya bagian dominan dari pola makan untuk mengejar hasil tertentu.
Padahal lebih banyak tidak otomatis lebih baik. Sarden tetap makanan dengan kandungan sodium yang dapat berbeda-beda tergantung produk, dan kebutuhan nutrisi setiap orang juga tidak sama. Pakar yang dikutip AJC mengingatkan bahwa makanan bergizi tetap sebaiknya dilihat sebagai bagian dari keseluruhan pola makan, bukan sebagai pengganti perawatan atau solusi tunggal untuk kondisi kulit.
Kalau seseorang mengalami masalah kulit seperti jerawat berat, eczema, atau kondisi yang terus memburuk, mengandalkan satu tren makanan jelas bukan pengganti evaluasi profesional.
Kenapa Tren Ini Relate Banget dengan Gen Z?
Gen Z cukup unik dalam melihat wellness. Di satu sisi mereka sangat akrab dengan skincare modern dan ingredient seperti retinol, niacinamide, atau peptides. Di sisi lain, banyak yang mulai tertarik dengan pendekatan sederhana, makanan utuh, rutinitas realistis, dan konsep kesehatan yang terasa lebih menyeluruh.
Sarden cocok dengan dua dunia tersebut. Ia punya sesuatu yang bisa dijelaskan secara ilmiah lewat omega-3 dan nutrisi, tetapi sekaligus punya karakter quirky yang sempurna untuk konten TikTok.
Ada juga faktor anti-glamour yang membuatnya menarik. Di tengah industri beauty yang penuh kemasan mahal, ide bahwa satu makanan sederhana dari supermarket bisa ikut mendukung kesehatan kulit terasa sedikit rebellious.
Mungkin itu alasan kenapa istilah “skincare dalam kaleng” gampang menempel. Ia terdengar absurd, tetapi masih cukup masuk akal untuk membuat orang penasaran.
Glow Up Nggak Datang dari Satu Kaleng
Pada akhirnya, sarden memang makanan bergizi. Memasukkannya ke dalam pola makan yang beragam bisa menjadi pilihan bagus bagi orang yang memang menyukai ikan dan cocok mengonsumsinya.
Namun kulit sehat nggak dibangun dari satu ingredient saja. Tidur yang cukup, makan yang bervariasi, hidrasi, perlindungan dari matahari, kebersihan kulit, serta pengelolaan stres tetap menjadi bagian dari gambar yang jauh lebih besar.
TikTok mungkin menemukan “skincare dalam kaleng”, tetapi bagian paling berguna dari tren ini bukan janji bahwa sarden akan mengubah wajah dalam semalam. Justru pengingat bahwa beauty dan wellness sering kali dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang konsisten, bukan dari satu life hack yang sedang lewat di FYP.