JOMO Lagi Ramai: Kenapa Gen Z Nyaman Jauh dari Notifikasi?

JOMO Gen Z bukan berarti anti-internet. Kenali cara menikmati jeda dari notifikasi dan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Pernah sengaja tidak membuka chat, melewatkan tren terbaru, atau membiarkan notifikasi menumpuk tanpa merasa bersalah? Kalau iya, kamu mungkin sedang merasakan JOMO Gen Z, yaitu Joy of Missing Out—rasa nyaman karena tidak selalu ikut dalam semua percakapan, tren, atau pembaruan digital.

JOMO bukan berarti membenci internet atau menghilang dari pergaulan. Ini lebih tentang memilih kapan ingin terhubung dan kapan ingin hadir sepenuhnya dalam aktivitas lain. Di tengah kebiasaan scrolling, grup chat, dan notifikasi yang datang tanpa henti, jeda kecil bisa menjadi bagian dari digital wellness yang realistis.

Apa arti JOMO bagi Gen Z?

JOMO dapat dipahami sebagai kebalikan dari FOMO atau Fear of Missing Out. Jika FOMO membuat seseorang merasa harus terus mengikuti apa yang sedang terjadi, JOMO menawarkan sudut pandang berbeda: tidak semua hal harus diketahui saat itu juga, tidak semua percakapan perlu diikuti, dan tidak semua tren wajib dicoba.

Bagi Gen Z, sikap ini bisa muncul dalam bentuk sederhana. Misalnya, memilih makan bersama teman tanpa sibuk mengabadikan setiap momen, menonton film tanpa mengecek media sosial, atau tidur tanpa membawa ponsel ke tempat tidur. Fokusnya bukan pada berapa lama seseorang offline, melainkan apakah penggunaan teknologi terasa dipilih secara sadar atau justru berlangsung otomatis.

Kenapa momen tanpa notifikasi terasa menyenangkan?

Notifikasi dirancang untuk menarik perhatian. Satu bunyi atau getaran kecil dapat membuat kita berpindah dari pekerjaan, percakapan, atau waktu istirahat ke layar ponsel. Jika terjadi berulang kali, perhatian terasa terbagi dan otak lebih sulit benar-benar beristirahat.

Sejumlah tinjauan penelitian pada remaja akhir dan dewasa muda menemukan bahwa penggunaan media digital berkaitan dengan durasi tidur yang lebih pendek dan kualitas tidur yang lebih buruk. Hubungan ini lebih sering terlihat ketika penggunaan dilakukan menjelang tidur atau pada malam hari.

Artinya, masalahnya tidak selalu sesederhana “semakin lama memakai ponsel, semakin buruk”. Waktu penggunaan, kebiasaan memakai perangkat di tempat tidur, pola penggunaan yang sulit dikendalikan, dan keterlibatan emosional dalam media sosial juga ikut berperan. Informasi resmi yang berkaitan dengan pembahasan ini juga tersedia pada halaman Kontak.

JOMO bukan berarti semua media sosial itu buruk

Penting untuk tidak menjadikan JOMO sebagai aturan baru yang kaku. Media sosial juga bisa membantu seseorang menjaga hubungan, menemukan informasi, menikmati hiburan, atau mengikuti komunitas yang disukai. Bukti yang ada belum mendukung kesimpulan bahwa semua penggunaan media sosial pasti berdampak buruk.

Aktivitas yang dilakukan, waktu penggunaannya, dan cara seseorang merespons konten dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda. Menonton video lucu selama beberapa menit tidak selalu sama dengan scrolling tanpa henti sambil merasa cemas, membandingkan diri, atau sulit berhenti meski sudah lelah.

Beberapa penelitian tentang pengurangan penggunaan media sosial selama satu minggu pada dewasa muda menemukan adanya penurunan gejala kecemasan, depresi, dan insomnia. Namun, hasil tersebut belum otomatis membuktikan dampak jangka panjang. Karena itu, JOMO lebih tepat dipandang sebagai pilihan untuk bereksperimen dengan batas digital, bukan resep yang berlaku sama untuk semua orang. Informasi resmi yang berkaitan dengan pembahasan ini juga tersedia pada halaman Disclaimer.

JOMO dan digital wellness dalam keseharian

Digital wellness tidak menuntut kita meninggalkan teknologi sepenuhnya. Tujuannya adalah membuat teknologi tetap mendukung kehidupan, bukan mengambil alih seluruh perhatian. Beberapa langkah berikut dapat dicoba secara bertahap.

1. Matikan notifikasi yang tidak penting

Tidak semua aplikasi perlu memiliki akses untuk mengganggu fokus. Pertahankan notifikasi yang benar-benar dibutuhkan, lalu nonaktifkan pemberitahuan promosi, rekomendasi, atau pembaruan yang bisa dilihat nanti. Dengan begitu, kamu tetap terhubung tanpa harus selalu siap merespons.

2. Buat area bebas ponsel sebelum tidur

Penggunaan perangkat di tempat tidur memiliki kaitan yang lebih kuat dengan gangguan tidur dibandingkan sekadar menghitung total durasi penggunaan harian. Cobalah meletakkan ponsel sedikit jauh dari jangkauan, menggunakan alarm terpisah jika diperlukan, atau membuat rutinitas singkat tanpa layar sebelum tidur.

3. Beri jeda dari infinite scroll

Fitur seperti infinite scroll dapat membuat seseorang sulit menemukan titik berhenti. Sebelum membuka aplikasi, tentukan tujuan yang jelas: ingin membalas pesan, mencari informasi, atau sekadar beristirahat selama beberapa menit. Setelah tujuan selesai, tutup aplikasi dan lanjutkan aktivitas lain.

4. Pilih momen yang ingin dijalani sepenuhnya

JOMO akan terasa lebih bermakna jika jeda digital diisi dengan sesuatu yang memang kamu inginkan. Bisa berupa makan tanpa layar, berbincang dengan orang terdekat, membaca, berjalan santai, atau mengerjakan hobi. Kamu tidak sedang “kehilangan” dunia digital; kamu sedang memberi ruang untuk dunia yang sedang ada di depan mata.

5. Jangan menjadikan offline sebagai perlombaan

Tidak perlu mengukur keberhasilan dari berapa jam kamu tidak menyentuh ponsel. Ada hari ketika pekerjaan atau komunikasi memang membutuhkan koneksi lebih sering. Digital wellness yang sehat bersifat fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan, bukan menambah tekanan baru.

Bedanya JOMO dengan digital decluttering

JOMO dan digital decluttering saling berhubungan, tetapi bukan hal yang sama. Digital decluttering biasanya berfokus pada merapikan ruang digital, seperti menghapus aplikasi, menata file, atau mengurangi akun yang tidak lagi relevan. Sementara itu, JOMO lebih menekankan sikap mental: merasa tetap baik-baik saja ketika tidak mengikuti semua hal yang berlangsung online.

Kalau ingin mulai dari sisi yang lebih praktis, kamu bisa membaca panduan Digital Decluttering: Cara Merapikan HP agar Fokus Lagi. Setelah ruang digital lebih tertata, langkah berikutnya adalah mengatur cara dan waktu penggunaannya agar terasa lebih sadar.

Apakah JOMO cocok untuk semua orang?

JOMO bisa menjadi pilihan yang membantu, terutama bagi orang yang merasa mudah terdistraksi, sulit berhenti scrolling, atau sering membawa ponsel ke waktu tidur. Namun, bentuknya tidak harus sama. Ada yang cukup mematikan notifikasi selama satu jam, ada pula yang memilih satu malam tanpa media sosial.

Perhatikan respons tubuh dan pikiran setelah mencoba jeda. Apakah tidur terasa lebih mudah? Apakah percakapan menjadi lebih hadir? Apakah waktu luang terasa lebih tenang? Pertanyaan semacam ini lebih berguna daripada mengikuti tren digital wellness secara membabi buta.

Menikmati koneksi tanpa dikendalikan notifikasi

Pada akhirnya, JOMO Gen Z bukan ajakan untuk menghilang dari internet. Ini adalah pengingat bahwa selalu tersedia bukan berarti selalu harus merespons. Kamu boleh mengikuti tren yang menarik, membalas pesan saat punya energi, dan menunda membuka aplikasi ketika sedang membutuhkan ruang.

Memilih jeda bukan berarti ketinggalan. Kadang, justru dari momen tanpa notifikasi kita bisa kembali fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Pendekatan ringan dan relevan seperti ini sejalan dengan semangat Tentang Kami di ASIKINAJA: membahas kebiasaan anak muda dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap punya konteks.

Jelajahi topik
ASIKINAJA.ID

Hidup udah ribet. Bacanya yang asik aja.

Cerita, tren, teknologi, lifestyle, relationship dan hiburan yang relate dengan kehidupan anak muda masa kini.