
AsikinAja.id – Media sosial kembali melahirkan tren relationship yang ramai dibicarakan Gen Z. Kali ini bukan soal red flag, ghosting, situationship, atau drama percintaan yang sering memenuhi timeline. Tren bernama My Favorite Person justru membawa suasana yang lebih hangat karena mengajak seseorang menunjukkan apresiasi kepada orang yang paling berarti dalam hidupnya. Konten ini banyak muncul dalam bentuk video sederhana, tetapi kekuatan utamanya terletak pada reaksi spontan dan cerita personal yang membuat penonton ikut terbawa perasaan.
Dalam tren My Favorite Person, seseorang biasanya merekam pasangan, sahabat, keluarga, atau orang terdekat secara natural. Kamera kemudian diarahkan kepada orang tersebut sambil pembuat video menceritakan berbagai alasan mengapa ia dianggap istimewa. Alasannya tidak selalu tentang sesuatu yang besar atau romantis. Banyak video justru menyoroti kebiasaan sederhana, seperti selalu mendengarkan cerita, mengingat makanan favorit, mengirim pesan ketika seseorang sedang sedih, atau menjadi orang pertama yang dicari ketika ada kabar baik maupun buruk. Detail kecil seperti inilah yang membuat tren ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari Gen Z.
Apa Itu Tren My Favorite Person?
Secara sederhana, My Favorite Person adalah tren media sosial yang digunakan untuk menunjukkan siapa sosok paling berharga dalam kehidupan seseorang. Konsepnya memang terdengar sederhana, tetapi formatnya mampu menghasilkan konten yang emosional karena orang yang menjadi subjek video sering kali tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dibicarakan. Ketika mereka akhirnya menyadari bahwa semua pujian tersebut ditujukan kepada dirinya, reaksi malu, terharu, tertawa, bahkan menangis menjadi bagian yang paling menarik dari video.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa konten viral tidak selalu membutuhkan editing rumit atau konsep yang spektakuler. Di tengah dominasi konten cepat, sensasional, dan penuh drama, video yang menampilkan hubungan manusia secara tulus justru bisa mendapatkan perhatian besar. Hal tersebut juga sesuai dengan kebiasaan Gen Z yang semakin menyukai konten autentik. Mereka tidak hanya ingin melihat sesuatu yang sempurna, tetapi juga momen yang terasa nyata dan mudah dikaitkan dengan kehidupan sendiri.
Kenapa Tren Ini Disukai Gen Z?
Salah satu alasan My Favorite Person menarik perhatian adalah karena tren ini menawarkan sisi relationship yang berbeda dari percakapan media sosial selama beberapa tahun terakhir. Banyak istilah populer dalam dunia hubungan lahir dari pengalaman negatif, mulai dari ghosting, breadcrumbing, love bombing, hingga situationship. Istilah-istilah tersebut memang membantu Gen Z memahami berbagai dinamika hubungan, tetapi pada saat bersamaan membuat percakapan tentang percintaan sering terasa penuh peringatan dan kecurigaan.
My Favorite Person hadir dengan pendekatan yang jauh lebih positif. Tren ini mengajak orang untuk memikirkan alasan mengapa seseorang layak dihargai, bukan mencari kesalahan mereka. Bahkan hal sederhana seperti menemani saat sedang lelah, mengingat detail kecil dari percakapan, atau memberikan dukungan tanpa diminta dapat menjadi alasan seseorang disebut sebagai orang favorit. Bagi Gen Z, pendekatan seperti ini terasa relevan karena bentuk kasih sayang sekarang tidak selalu harus ditunjukkan melalui hadiah mahal atau gestur dramatis. Konsistensi, perhatian, komunikasi, dan rasa nyaman justru semakin dianggap sebagai bagian penting dari hubungan yang sehat.
Bukan Hanya untuk Pasangan Romantis
Meskipun banyak konten My Favorite Person dibuat oleh pasangan, tren ini sebenarnya tidak terbatas pada hubungan romantis. Sahabat juga bisa menjadi orang favorit karena selalu hadir selama bertahun-tahun. Orang tua dapat menjadi sosok yang paling berarti karena dukungan mereka, sementara kakak atau adik bisa menjadi orang yang paling memahami kehidupan kita sejak kecil. Bahkan sebagian pengguna media sosial membuat versi My Favorite Person untuk hewan peliharaan mereka.
Fleksibilitas inilah yang membuat tren tersebut mudah berkembang. Setiap orang mempunyai definisi berbeda tentang siapa yang paling berarti dalam hidupnya, sehingga kontennya tidak terasa monoton meskipun menggunakan format yang serupa. Seseorang mungkin membuat video untuk pacarnya, sementara pengguna lain mendedikasikannya kepada sahabat sejak sekolah. Ada pula yang menggunakan tren ini untuk memberikan penghargaan kepada ibu, ayah, atau anggota keluarga lain yang jarang mendapatkan ucapan terima kasih secara langsung.
Dari sisi relationship Gen Z, tren ini juga menunjukkan bahwa makna hubungan semakin luas. Relationship tidak selalu identik dengan pacaran. Persahabatan, keluarga, dan koneksi emosional lainnya juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial generasi muda.
Dari Nonchalant ke Era Lebih Terbuka Menunjukkan Perasaan
Perubahan menarik juga terlihat dalam cara Gen Z memandang perhatian. Beberapa waktu lalu, sikap nonchalant atau terlihat cuek sering dianggap menarik karena memberi kesan seseorang tidak mudah terbawa perasaan. Namun, semakin banyak anak muda yang mulai menyadari bahwa hubungan yang terlalu penuh permainan psikologis justru melelahkan. Mereka mulai menghargai orang yang mampu menunjukkan perhatian secara jelas tanpa harus berpura-pura tidak peduli.
Di sinilah My Favorite Person terasa cocok dengan perkembangan tren relationship saat ini. Menunjukkan bahwa seseorang penting tidak lagi selalu dianggap berlebihan. Mengirim pesan terlebih dahulu, mengatakan rindu, memberikan pujian, atau menunjukkan apresiasi mulai kembali dianggap sebagai sesuatu yang positif. Gen Z memang masih menggunakan humor, meme, emoji, dan bahasa internet dalam berkomunikasi, tetapi di balik semua itu ada keinginan untuk mendapatkan hubungan yang lebih jelas dan emosional.
Tren ini juga memperlihatkan bahwa tindakan kecil sering kali jauh lebih berkesan dibanding sesuatu yang direncanakan secara berlebihan. Ketika seseorang mengatakan, “Dia selalu memastikan aku sudah sampai rumah dengan aman,” kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru terasa personal karena berasal dari pengalaman nyata.
My Favorite Person dan Makna Appreciation dalam Relationship
Salah satu pesan paling kuat dari tren My Favorite Person adalah pentingnya apresiasi dalam sebuah hubungan. Banyak orang sebenarnya mengetahui bahwa pasangan, sahabat, atau keluarganya penting, tetapi tidak selalu mengatakannya secara langsung. Kesibukan, kebiasaan, atau rasa canggung sering membuat rasa terima kasih hanya tersimpan dalam pikiran.
Melalui tren ini, media sosial menjadi medium untuk mengubah perasaan tersebut menjadi sebuah pesan yang nyata. Seseorang tidak hanya mengatakan bahwa pasangannya baik, tetapi menjelaskan secara spesifik mengapa ia merasa demikian. Semakin spesifik alasannya, semakin personal pula maknanya. Mengingat kebiasaan kecil, cara seseorang memberikan dukungan, atau momen ketika ia selalu hadir dapat menjadi bentuk validasi emosional yang sangat berarti.
Dalam hubungan, perasaan dihargai juga berpengaruh terhadap kedekatan. Banyak konflik tidak selalu muncul karena tidak adanya rasa sayang, tetapi karena seseorang merasa perhatian atau usahanya tidak terlihat. Karena itu, meskipun My Favorite Person awalnya hanya terlihat seperti tren TikTok, konsep dasarnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus membuat konten.
Tidak Harus Ikut Tren untuk Menunjukkan Perhatian
Menariknya, seseorang tidak perlu mengunggah video ke TikTok untuk mengikuti pesan dari tren ini. Esensi My Favorite Person sebenarnya bisa diterapkan dengan cara yang lebih sederhana. Mengirim pesan terima kasih, memberikan pujian secara langsung, mengatakan bahwa seseorang berarti, atau sekadar mengingat hal kecil yang mereka sukai sudah menjadi bentuk apresiasi.
Media sosial sering membuat orang merasa hubungan yang bagus harus selalu terlihat menarik di depan kamera. Padahal, relationship yang sehat justru lebih banyak terbentuk dari kebiasaan yang tidak terlihat publik. Cara seseorang berkomunikasi saat ada masalah, menghormati batasan, memberikan ruang, menjaga kepercayaan, dan hadir ketika dibutuhkan tetap jauh lebih penting daripada jumlah likes atau komentar dalam sebuah unggahan.
Karena itu, tren My Favorite Person akan lebih bermakna jika tidak hanya digunakan sebagai konten. Video viralnya mungkin bertahan beberapa hari atau beberapa minggu, tetapi kebiasaan menghargai orang lain bisa memberikan dampak yang jauh lebih lama.
Bagaimana Jika My Favorite Person Adalah Diri Sendiri?
Ada juga sisi lain dari tren ini yang mulai menarik perhatian, yaitu menggunakan konsep My Favorite Person untuk membangun apresiasi terhadap diri sendiri. Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang membuat perbandingan sosial terjadi hampir setiap hari. Seseorang bisa membuka media sosial dan dalam beberapa menit melihat pencapaian karier, hubungan romantis, perjalanan, penampilan, hingga gaya hidup orang lain.
Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit orang yang lebih mudah melihat kekurangan diri sendiri dibanding hal yang sudah berhasil mereka lakukan. Konsep My Favorite Person dapat dibalik menjadi pertanyaan sederhana: jika kita mampu menjelaskan puluhan alasan mengapa sahabat atau pasangan layak dihargai, mengapa begitu sulit melakukan hal yang sama kepada diri sendiri?
Self-appreciation bukan berarti merasa lebih hebat dari orang lain. Maknanya adalah mampu mengenali perkembangan, usaha, dan kualitas diri tanpa harus selalu mencari validasi dari luar. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti bertahan melewati masa sulit, memperbaiki kebiasaan, atau berani mengambil keputusan penting layak untuk diapresiasi.
Tren Sederhana yang Mengingatkan Pentingnya Orang Terdekat
Pada akhirnya, My Favorite Person menjadi viral bukan karena konsepnya rumit, melainkan karena hampir semua orang dapat memahami perasaan di baliknya. Setiap orang memiliki sosok yang membuat hari terasa lebih ringan, menjadi tempat bercerita, atau sekadar hadir ketika dibutuhkan. Tren ini hanya memberikan format baru bagi Gen Z untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada sejak lama: rasa sayang dan rasa terima kasih.
Di tengah timeline yang penuh perdebatan tentang red flag, toxic relationship, dan berbagai istilah dating modern, My Favorite Person menawarkan perspektif yang lebih ringan. Hubungan tidak selalu harus dianalisis dari sisi masalah. Ada kalanya kita juga perlu melihat apa yang sudah berjalan baik dan siapa orang yang selama ini memberikan pengaruh positif dalam kehidupan.
Mungkin tren My Favorite Person suatu saat akan tergantikan oleh format viral berikutnya. Namun pesan yang dibawanya tetap relevan: jangan hanya menyimpan apresiasi dalam pikiran. Jika seseorang benar-benar penting, tidak ada salahnya memberi tahu mereka.
Dan kalau harus memilih satu nama hari ini, siapa My Favorite Person kamu?