“Marriage Is Scary” Masih Ramai, Kenapa Gen Z Makin Banyak Mikir Sebelum Nikah?

AsikinAja.id – Scroll TikTok beberapa menit dan kemungkinan besar kamu pernah menemukan cerita tentang perselingkuhan, pasangan yang berubah setelah menikah, konflik finansial, pembagian pekerjaan rumah yang nggak adil, sampai pernikahan...

Marriage Is Scary

AsikinAja.id – Scroll TikTok beberapa menit dan kemungkinan besar kamu pernah menemukan cerita tentang perselingkuhan, pasangan yang berubah setelah menikah, konflik finansial, pembagian pekerjaan rumah yang nggak adil, sampai pernikahan yang berakhir jauh dari kata bahagia. Dari konten seperti itulah istilah “Marriage Is Scary” terus hidup di media sosial.

Kalimat tersebut memang sering dipakai sebagai meme atau ekspresi spontan di kolom komentar. Namun di balik sisi lucunya, ada pembicaraan yang lebih besar tentang bagaimana Gen Z melihat pernikahan. Bukan semata-mata nggak percaya cinta, tetapi semakin sadar bahwa menikah membawa konsekuensi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar punya pasangan.

Fenomena ini bahkan mulai mendapat perhatian akademis. Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada akhir Agustus dan awal September 2026 meneliti hubungan antara paparan konten “Marriage Is Scary” di TikTok dengan persepsi serta kesiapan menikah di kalangan Gen Z Indonesia.

FYP Bisa Membuat Dunia Terlihat Lebih Menyeramkan

TikTok bekerja dengan algoritma yang belajar dari apa yang kita tonton, sukai, komentari, dan bagikan. Ketika seseorang berhenti lebih lama pada satu video tentang hubungan bermasalah, besar kemungkinan video dengan tema serupa akan kembali muncul.

Lama-lama FYP bisa menciptakan kesan seolah semua hubungan punya masalah yang sama. Satu cerita perselingkuhan diikuti cerita perceraian, lalu konflik mertua, financial abuse, pasangan toxic, dan pengalaman rumah tangga lainnya. Padahal yang tampil di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas kehidupan pasangan di luar sana.

Penelitian terhadap 100 perempuan Gen Z di Bogor yang familiar dengan hashtag “Marriage Is Scary” menemukan adanya hubungan antara paparan konten semacam itu dengan cara responden memandang komitmen dan pernikahan. Peneliti menekankan peran paparan algoritmik dalam membentuk persepsi, tetapi temuan tersebut adalah asosiasi, bukan bukti bahwa TikTok sendirian menyebabkan seseorang takut menikah.

Ini penting karena algoritma bukan kaca jendela yang memperlihatkan dunia apa adanya. Ia lebih mirip kaca pembesar yang terus menunjukkan hal-hal yang dianggap paling mampu mempertahankan perhatian kita.

Gen Z Bukan Anti-Pernikahan

Melihat ramainya tren “Marriage Is Scary”, gampang untuk mengambil kesimpulan bahwa Gen Z sudah nggak tertarik menikah. Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Banyak anak muda tetap menginginkan hubungan jangka panjang, tetapi standar terhadap hubungan juga berubah. Mereka semakin banyak membicarakan komunikasi, emotional availability, boundaries, financial compatibility, pembagian pekerjaan domestik, sampai kesehatan mental sebelum mengambil keputusan besar.

Penelitian mengenai persepsi Gen Z pengguna TikTok di Makassar juga menemukan bahwa pandangan terhadap pernikahan tidak hanya dibentuk media sosial. Pengalaman pribadi, perceraian orang tua, pengalaman perselingkuhan, dan lingkungan sosial turut memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan setelah menikah.

Jadi ketika seseorang mengatakan “marriage is scary”, belum tentu maksudnya “aku nggak akan pernah menikah”. Bisa jadi yang sebenarnya ingin dikatakan adalah: “Aku nggak mau masuk ke pernikahan yang salah.”

Cinta Sekarang Nggak Cukup Cuma Modal Chemistry

Generasi sebelumnya juga tentu memikirkan kesiapan sebelum menikah. Bedanya, Gen Z hidup pada zaman ketika pengalaman orang lain bisa dilihat hampir tanpa batas.

Mereka bisa membaca cerita tentang pasangan yang punya masalah keuangan, melihat pembahasan mengenai mental load dalam rumah tangga, mendengar pengalaman perempuan yang merasa kehilangan diri setelah menikah, atau menonton diskusi mengenai hubungan yang sehat. Semua informasi tersebut membuat konsep pernikahan terlihat lebih realistis dibanding gambaran romantis sederhana seperti “kalau saling cinta pasti semuanya bisa dilewati”.

Akibatnya, pertanyaan yang muncul juga menjadi lebih detail. Apakah cara mengelola uang cocok? Bagaimana menghadapi keluarga besar? Ingin punya anak atau tidak? Bagaimana membagi pekerjaan rumah? Kalau karier salah satu pasangan berkembang lebih cepat, apakah hubungan tetap sehat?

Pertanyaan seperti itu mungkin terasa nggak romantis. Namun justru di situlah terlihat bahwa sebagian Gen Z memandang relationship dengan lebih serius.

Di Satu FYP Ada “Marriage Is Scary”, di FYP Lain Ada “Couple Goals”

Menariknya, media sosial memberikan dua gambaran hubungan yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi ada konten “Marriage Is Scary” yang menampilkan berbagai risiko pernikahan. Di sisi lain, TikTok juga penuh dengan couple goals: pasangan traveling bersama, surprise flowers, anniversary mewah, komunikasi sempurna, dan hubungan yang terlihat hampir nggak pernah punya masalah.

Penelitian yang terbit Agustus 2026 menganalisis komentar pada konten TikTok bertema couple goals dan healthy relationship. Hasilnya menunjukkan bahwa representasi hubungan romantis yang ideal dapat memengaruhi ekspektasi serta mendorong proses membandingkan hubungan sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial.

Jadinya agak ironis. Satu video membuat kita berpikir, “Aku juga mau relationship seperti mereka,” sementara video berikutnya membuat kita berkata, “Udah deh, sendiri aja.”

Padahal dua-duanya menunjukkan bagian kehidupan yang sudah melalui proses seleksi. Pasangan bahagia nggak selalu mengunggah konflik mereka, sementara orang yang sedang bercerita tentang pengalaman buruk juga hanya menunjukkan satu jenis pengalaman.

Menikah Sekarang Juga Berhadapan dengan Realitas Finansial

Hubungan romantis nggak hidup di ruang kosong. Harga tempat tinggal, biaya hidup, pekerjaan, kebutuhan keluarga, dan rencana masa depan semuanya ikut menentukan bagaimana seseorang memandang pernikahan.

Buat banyak anak muda, menikah bukan sekadar menyiapkan pesta. Ada pertanyaan tentang apakah penghasilan cukup, apakah sudah punya tabungan darurat, bagaimana membayar tempat tinggal, sampai apakah secara emosional siap hidup dengan orang lain dalam jangka panjang.

Itulah kenapa ketakutan menikah nggak selalu berasal dari komitmen romantis. Kadang yang terasa menakutkan justru paket lengkap kehidupan setelahnya.

Penelitian tentang fenomena “Marriage Is Scary” juga mencatat bahwa narasi di media sosial sering bersinggungan dengan konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, komitmen jangka panjang, dan ketimpangan peran gender.

Terlalu Banyak Informasi Bisa Bikin Overthinking

Mengetahui red flag jelas berguna. Memahami financial abuse, manipulasi, komunikasi toxic, atau bentuk relationship yang nggak sehat juga membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik.

Namun terlalu banyak mengonsumsi konten semacam itu bisa membuat semua perilaku mulai terlihat mencurigakan. Balasan chat yang telat dianggap emotional unavailability, beda pendapat sedikit disebut incompatibility, dan kebiasaan kecil pasangan langsung dicari apakah masuk kategori red flag.

Relationship akhirnya terasa seperti ujian dengan ratusan checklist yang semuanya harus sempurna.

Padahal hubungan sehat bukan hubungan tanpa perbedaan atau masalah. Yang lebih penting adalah bagaimana dua orang berkomunikasi, menyelesaikan konflik, menghormati batas, dan bertumbuh bersama.

Informasi seharusnya membantu seseorang membuat keputusan lebih baik, bukan membuatnya takut menjalani hubungan sama sekali.

Takut Nikah Bisa Jadi Tanda Gen Z Sedang Lebih Selektif

Ada sisi positif yang sering hilang ketika membahas tren ini. Keraguan juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang nggak mau mengambil keputusan besar secara sembarangan.

Gen Z semakin terbuka membicarakan hal-hal yang dulu mungkin dianggap terlalu pribadi: kesehatan mental, trauma keluarga, kebutuhan emosional, keuangan pasangan, sampai pembagian peran dalam rumah tangga. Percakapan semacam itu bisa membuat proses menuju komitmen terasa lebih panjang, tetapi juga memberi kesempatan mengenal pasangan secara lebih realistis.

Mungkin tujuannya bukan mencari relationship sempurna. Yang dicari adalah hubungan yang cukup aman untuk menghadapi kehidupan yang jelas-jelas nggak sempurna.

Jangan Biarkan Algoritma Menentukan Pandangan soal Cinta

TikTok bisa menjadi tempat yang berguna untuk belajar dari pengalaman orang lain. Cerita seseorang tentang relationship toxic bisa membantu orang lain mengenali pola yang sebelumnya nggak mereka sadari, sementara konten relationship sehat dapat menunjukkan bahwa komunikasi yang baik memang mungkin dibangun.

Namun pengalaman orang di FYP tetap bukan ramalan tentang kehidupan kita.

Pernikahan seseorang bisa gagal tanpa berarti semua pernikahan akan berakhir sama. Pasangan di TikTok juga bisa terlihat sempurna tanpa berarti kehidupan mereka benar-benar bebas masalah.

Pada akhirnya, keputusan soal relationship sebaiknya dibentuk oleh nilai pribadi, kesiapan, pengalaman nyata, komunikasi dengan pasangan, dan kondisi kehidupan sendiri, bukan hanya video yang sedang didorong algoritma.

“Marriage Is Scary” mungkin tetap menjadi kalimat yang relatable. Menikah memang keputusan besar dan wajar kalau terasa menakutkan. Tetapi mungkin Gen Z sebenarnya bukan semakin takut terhadap cinta—mereka cuma semakin sadar bahwa memilih siapa yang diajak menjalani hidup jauh lebih penting daripada sekadar mengejar status sudah menikah.

Jelajahi topik
ASIKINAJA.ID

Hidup udah ribet. Bacanya yang asik aja.

Cerita, tren, teknologi, lifestyle, relationship dan hiburan yang relate dengan kehidupan anak muda masa kini.